
<IMG onmouseover=”changetext(‘Cara yang paling baik untuk menghindari matahari sore adalah dengan dinding masif. Semakin tebal semakin baik.’);changepoto(‘Tabloid Rumah‘);” height=52 hspace=2 src=”http://www.kompas.com/data/photo/2008/05/29/084206t.jpg” width=70 border=0 fixed_bound=”true”><IMG onmouseover=”changetext(‘Menyembunyikan pintu merupakan salah satu trik untuk membuat rumah yang menghadap barat terasa lebih teduh.’);changepoto(‘Tabloid Rumah‘);” height=52 hspace=2 src=”http://www.kompas.com/data/photo/2008/05/29/084421t.jpg” width=70 border=0 fixed_bound=”true”>
Willing Ardian (40)—arsitek alumni UKI Jakarta—yang memiliki rumah yang menghadap barat, memilih untuk mengolah fasad rumahnya. Cara yang ditempuh sangat menarik. Menurut Willing, cara yang paling baik untuk menghindari matahari sore adalah dengan dinding masif; semakin tebal semakin baik. Tapi tentunya, rumah yang fasadnya dipenuhi dinding masif akan terlihat tidak menyerupai rumah dan juga tidak indah. Karena itu Willing mengakalinya dengan cara membagi-bagi fasad menjadi beberapa bagian, dan memberikan perlakukan tersendiri pada setiap bagian. Dari segi bahan, Willing juga banyak menggunakan bahan-bahan alami seperti batu dan kayu.
Dinding Kamar Mandi
Bila mengacu pada foto tampak depan, dinding yang ada di bagian atas kiri adalah dinding kamar mandi. Dinding itu diolah dengan diberi pelapis batu paras jogja warna putih. Batu dipasang dengan cara khusus, ada yang timbul dan ada yang tidak. Bila lampu sorot dihidupkan, akan terbentuk pola bayangan yang dramatis; pada siang hari terbentuk bayangan ke arah bawah, dan pada malam hari terlihat bayangan ke atas.
Dinding Kamar Tidur
Ruang lain yang ada di balik dinding depan ini adalah kamar tidur. Tentu tidak mungkin menerapkan dinding masif pada bidang kamar tidur ini. Karena itu Willing tetap menggunakan kaca pada bidang yang menghadap jalan utama. Tetapi untuk sedikit mengontrol sinar matahari, digunakan sistem layer. Di depan kaca ini diberi pelapis kisi-kisi kayu dengan pola horizontal. Dengan cara ini, panas matahari tidak membanjiri kamar tidur, tapi cahayanya tetap dapat menerobos dari sela-sela kisi.
Aksen di Tengah
Untuk aksen, di bagian tengah dinding depan dilapisi batu india slate. Batu ini ditempel pada sebuah bidang memanjang dari lantai 1 sampai lantai 2. Batu bertekstur dengan warna campuran kuning, abu-abu terang, dan abu-abu gelap ini memberikan sentuhan alami pada rumah ini.
Pintu Disembunyikan
Satu masalah lagi kalau rumah menghadap barat, teras menjadi panas, dan pintu utama juga terserang sinar matahari siang sampai sore. Padahal, harusnya teras agak teduh, karena fungsinya sebagai ruang peralihan antara ruang luar dan ruang dalam.
Di sini masalah itu diselesaikan dengan cara membuat teras yang sedikit menjorok ke dalam, menyerupai lorong. Dengan bentuk seperti ini, teras jadi adem, pintu utama pun bisa lebih awet karena tidak terpapar matahari terus-menerus.
(dek)
LOKASI: KEDIAMAN WILLING

<IMG onmouseover=”changetext(‘Cara yang paling baik untuk menghindari matahari sore adalah dengan dinding masif. Semakin tebal semakin baik.’);changepoto(‘Tabloid Rumah‘);” height=52 hspace=2 src=”http://www.kompas.com/data/photo/2008/05/29/084206t.jpg” width=70 border=0 fixed_bound=”true”><IMG onmouseover=”changetext(‘Menyembunyikan pintu merupakan salah satu trik untuk membuat rumah yang menghadap barat terasa lebih teduh.’);changepoto(‘Tabloid Rumah‘);” height=52 hspace=2 src=”http://www.kompas.com/data/photo/2008/05/29/084421t.jpg” width=70 border=0 fixed_bound=”true”>
Willing Ardian (40)—arsitek alumni UKI Jakarta—yang memiliki rumah yang menghadap barat, memilih untuk mengolah fasad rumahnya. Cara yang ditempuh sangat menarik. Menurut Willing, cara yang paling baik untuk menghindari matahari sore adalah dengan dinding masif; semakin tebal semakin baik. Tapi tentunya, rumah yang fasadnya dipenuhi dinding masif akan terlihat tidak menyerupai rumah dan juga tidak indah. Karena itu Willing mengakalinya dengan cara membagi-bagi fasad menjadi beberapa bagian, dan memberikan perlakukan tersendiri pada setiap bagian. Dari segi bahan, Willing juga banyak menggunakan bahan-bahan alami seperti batu dan kayu.
Dinding Kamar Mandi
Bila mengacu pada foto tampak depan, dinding yang ada di bagian atas kiri adalah dinding kamar mandi. Dinding itu diolah dengan diberi pelapis batu paras jogja warna putih. Batu dipasang dengan cara khusus, ada yang timbul dan ada yang tidak. Bila lampu sorot dihidupkan, akan terbentuk pola bayangan yang dramatis; pada siang hari terbentuk bayangan ke arah bawah, dan pada malam hari terlihat bayangan ke atas.
Dinding Kamar Tidur
Ruang lain yang ada di balik dinding depan ini adalah kamar tidur. Tentu tidak mungkin menerapkan dinding masif pada bidang kamar tidur ini. Karena itu Willing tetap menggunakan kaca pada bidang yang menghadap jalan utama. Tetapi untuk sedikit mengontrol sinar matahari, digunakan sistem layer. Di depan kaca ini diberi pelapis kisi-kisi kayu dengan pola horizontal. Dengan cara ini, panas matahari tidak membanjiri kamar tidur, tapi cahayanya tetap dapat menerobos dari sela-sela kisi.
Aksen di Tengah
Untuk aksen, di bagian tengah dinding depan dilapisi batu india slate. Batu ini ditempel pada sebuah bidang memanjang dari lantai 1 sampai lantai 2. Batu bertekstur dengan warna campuran kuning, abu-abu terang, dan abu-abu gelap ini memberikan sentuhan alami pada rumah ini.
Pintu Disembunyikan
Satu masalah lagi kalau rumah menghadap barat, teras menjadi panas, dan pintu utama juga terserang sinar matahari siang sampai sore. Padahal, harusnya teras agak teduh, karena fungsinya sebagai ruang peralihan antara ruang luar dan ruang dalam.
Di sini masalah itu diselesaikan dengan cara membuat teras yang sedikit menjorok ke dalam, menyerupai lorong. Dengan bentuk seperti ini, teras jadi adem, pintu utama pun bisa lebih awet karena tidak terpapar matahari terus-menerus.
(dek)
LOKASI: KEDIAMAN WILLING ARDIAN—WIWIK YAPRI
ARDIAN—WIWIK YAPRI